Kendurenan adalah sebuah bentuk tradisi yang melibatkan acara makan bersama dengan hidangan nasi Bancakan.
Wonogiri MR– Bulan Ramadhan selalu membawa atmosfer yang istimewa bagi umat Muslim, tak hanya karena ibadah puasa yang penuh berkah, namun juga karena beragam tradisi yang menghiasi setiap sudut desa.
Salah satunya adalah tradisi kendurenan yang dijalankan oleh warga Desa Sunggingan, Kecamatan Sidokarto, Girimarto, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Tradisi ini menjadi bukti kuat betapa eratnya hubungan antara agama dan budaya yang telah terjalin turun-temurun.
Kendurenan adalah sebuah bentuk tradisi yang melibatkan acara makan bersama dengan hidangan nasi Bancakan. Setiap tahun, warga Desa Sunggingan melaksanakan kendurenan pada tiga waktu yang penting selama bulan Ramadhan: saat awal puasa, malam ke-21 Ramadhan, dan menjelang Idul Fitri. Tradisi ini tidak hanya sekadar makan bersama, tetapi juga sebagai bentuk syukur dan doa bersama untuk keselamatan dan kelancaran hidup.
Pada saat kendurenan, setiap keluarga akan membawa nasi Bancakan mereka sendiri-sendiri, yang biasanya berisi nasi, lauk pauk, dan berbagai hidangan khas daerah. Setelah itu, warga berkumpul di rumah kepala RW setempat, yang biasanya adalah rumah Bu RW. Di rumah ini, acara doa bersama dimulai dengan tujuan agar bulan suci Ramadhan membawa berkah bagi seluruh warga dan desa.
Salah satu bagian yang sangat menarik dari tradisi kendurenan ini adalah tukar-menukar nasi Bancakan antar warga. Setelah doa bersama selesai, setiap keluarga akan saling bertukar nasi Bancakan mereka. Tradisi tukar nasi ini menjadi simbol dari kebersamaan dan rasa saling menghormati antar sesama. Meskipun nasi Bancakan yang dibawa masing-masing keluarga tidak selalu sama, perbedaan tersebut justru memperkaya rasa kebersamaan dalam keberagaman.
Menurut Mbah Sutris, tradisi tukar nasi Bancakan ini sudah ada sejak nenek moyang mereka dan terus dijaga dengan penuh penghormatan. Salah satu warga, Mbah Sutris mengungkapkan bahwa tradisi ini merupakan salah satu cara untuk menjaga keharmonisan dan mempererat silaturahmi antar warga. "Setiap tahun kami selalu menunggu momen kendurenan ini, selain bisa berdoa bersama, juga bisa merasakan kebersamaan dengan tetangga dan saudara," kata Mbah Sutris .
Doa bersama yang dilaksanakan dalam setiap acara kendurenan memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Desa Sunggingan. Ini adalah waktu untuk berdoa tidak hanya untuk diri sendiri, tetapi juga untuk keselamatan dan kesejahteraan seluruh umat. Doa yang dipanjatkan pada malam tersebut biasanya mencakup harapan agar bulan Ramadhan membawa kedamaian dan kebahagiaan, serta agar umat Muslim bisa menyelesaikan ibadah puasa dengan penuh keberkahan.
Selain itu, tradisi kendurenan juga menjadi ajang bagi warga untuk mengenang tradisi dan adat yang sudah diwariskan turun-temurun. Meskipun perkembangan zaman terus membawa perubahan, namun kendurenan tetap bertahan sebagai bentuk komitmen warga Desa Sunggingan dalam menjaga warisan budaya mereka.
Di balik setiap nasi Bancakan yang ditukarkan, terdapat semangat gotong royong yang kental. Setiap warga Desa Sunggingan tidak hanya hadir untuk menikmati hidangan, tetapi juga untuk berbagi dan mempererat tali silaturahmi. Dalam setiap tukar nasi, tercipta sebuah ikatan sosial yang memperkuat hubungan antar warga. Tak jarang, pertemuan tersebut juga dimanfaatkan untuk saling memberikan informasi tentang kegiatan desa atau sekadar berbincang-bincang mengenai kehidupan sehari-hari.
Bagi masyarakat Desa Sunggingan, kendurenan bukan hanya sekadar ritual, melainkan sebuah bentuk ikatan emosional yang memperkuat rasa kebersamaan dan kebudayaan Jawa. Meskipun dunia telah berubah, mereka tetap berpegang pada adat dan tradisi yang telah ada selama berabad-abad. Kendurenan ini juga menjadi bentuk pelestarian warisan budaya yang perlu dijaga agar tidak terlupakan oleh generasi yang akan datang.
Di tengah dunia yang serba cepat dan modern ini, keberadaan tradisi seperti kendurenan menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menjaga nilai-nilai luhur budaya, merayakan kebersamaan, dan mensyukuri berkah Ramadhan dengan cara yang sangat khas dan penuh makna.( Yuna / Cahyospirit)
Posting Komentar untuk "Kendurenan Malam 21, dan Menjelang Idul Fitri: Tradisi Ramadhan yang Tak Pernah Pudar di Desa Sunggingan"